SDA Watch: PT. PWS Diduga Melanggar Aturan dan Merusak Lingkungan

 Uncategorized

KABUPATEN MUBA , – Kami SDA-Watch menemukan beberapa fakta dan bukti indikasi pelanggaran aturan dan Undang-undang yang dilakukan akibat aktifitas dan operasional PT. PWS dalam menjalankan usaha perkebunan dan pabrik kelapa sawit begitu diungkap Denres SP, Kepala Tim Investigasi, SDA Watch. Senin, (13/07/2019).

Dalam Press Conference Lembaga
SDA Watch terkait investigasi terhadap PT. Pinang Witmas Sejati dalam focal point terhadap Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) oleh SDA-Watch terhadap aktifitas PT. PWS di Desa Mangsang, Desa Kepahyang, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin.

Denres mengungkapkan, “kami melihat dan menemukan fakta-fakta dilapangan bahwa diduga dalam proses pelaksanaan Operasional di lapangan tidak sesuai dengan aturan dan Undang-Undang yang ada dan melanggar aspek lingkungan serta belum banyak berkontribusi dalam membangun masyarakat sekitar kawasan eksploitasi”.

Dari beberapa kali investigasi, lanjut nya, ” di lapangan dan wawancara dari beberapa nara sumber dan masyarakat sekitar kami SDA-Watch menemukan beberapa fakta dan bukti indikasi pelanggaran aturan dan Undang-undang yang dilakukan akibat aktifitas dan operasional PT. PWS dalam menjalankan usaha perkebunan kelapa sawit, sebagai berikut :
1. Pada Divisi Pasir Salak Kami menemukan Fakta bahwa PT. PWS melakukan penanaman Kelapa Sawit Terlalu Dekat Dengan Bibir Sungai Hanya berjarak Sekitar 50 M dari tepi Sungai Lalan. Padahal sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Sungai Bahwa penentuan garis SEMPADAN SUNGAI dalam hal ini Sungai Lalan adalah sungai besar seharusnya harus menyisakan Pepohonan dan Tumbuhan sepanjang kiri dan kanan sempadan sungai minimal 100 M dari tepi Sungai Lalan. Panjang Sungai Lalan yang garis sempadan Sungai ditanami Kelapa Sawit tidak sesuai aturan ini diperkirakan sekitar 6 Km.

2. Ada 4 Anak sungai Lalan yang berada Dalam Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit PT. PWS yang justru mengalami kerusakan permanen akibat aktifitas perkebunan PT. PWS. Dimana PT. PWS membuat tangggul tepat ditepi sungai tanpa menyisakan Pepohonan dan tumbuhan yang seharusnya disisakan disepanjang garis Sempadan Sungai. Akibat pembuatan Tanggul yang justru malah mempersempit keberadaan sungai yang ada menurut masyarakat sekitar dan pemantauan kami dilapangan nyaris tidak ditemukanya flora dan fauna disepanjang sungai yang ada, populasi maupun jenis ikan yang ada sangat berkurang bahkan beberapa jenis ikan nyaris tidak ditemukan dan musnah.

Penjelasan ke-4 Anak sungai Lalan tersebut sebagai berikut :
1). Sungai Penampin, memiliki lebar rata-rata 15-20 Meter berada di Divisi Pasir Salak, panjang kerusakan sekitar 6 KM sepanjang sempadan kiri maupun kanan sungai.

2). Sungai Bakung, Memiliki Lebar rata-rata 50 Meter, berada di Divisi Pasir Salak, Panjang Sungai Sekitar 8 Km juga mengalami kerusakan sepanjang garis kiri maupun kanan sempadan sungai.

3). Sungai Merang, Memiliki Lebar rata-rata 3 Meter, berada sebagian di Divisi Pangkor dan sebagian di Divisi Grik. Panjang sekitar 5 Km. Mengalami kerusakan depanjang garis kiri maupun kanan sempadan sungai.

4). Sungai Meranti. Memiliki Lebar 4 Meter Berada di Divisi Grik, Panjang Sungai Sekitar 4 Km. Senasib seperti sungai yang lain juga dibabat habis dan dibuat tanggul nyaris ditepi bibir sungai dan tidak menyisakan garis sempadan sungai Meranti tersebut.

3. Dari beberapa kali investigasi lapangan yang dilakukan terhadap populasi dan jenis ikan, nyaris tidak ditemukan lagi ikan disepanjang kanal di dalam areal kebun, hal ini menjadi pertanyaan.

” Padahal, jelas Denres, “biasanya disetiap kanal dan sungai daerah rawa-rawa banyak sekali jenis dan populasi ikan lokal.Dari uji coba dengan memancing ikan dan informasi masyarakat sekitar jenis dan populasi ikan nyaris hilang beberapa tahun terakhir setelah beroperasinya Pabrik Kelapa Sawit PT. PWS.

” Nah Kami menduga hal ini diakibatkan terjadi pencemaran air sungai/kanal akibat limbah kelapa sawit PT. PWS yang menyebabkan PH air menjadi asam diluar ambang batas untuk berkembangnya ikan-ikan lokal”.

” Jadi hal ini perlu dilakukan pengujian baku mutu air di sepanjang kanal dan sungai yang ada dalam areal PT.PWS oleh pihak yang berkompeten dan berwenang.”, tegas dia.

Dia melanjutkan, “Hal tersebut penting terkait kelestarian lingkungan dan kelangsungan hidup biota sungai, hewan dan manusia yang hidup disekitar wilayah terdampak”.

Dia juga menyoal keberadaan PKS nya PT.PWS, dan berkata,
“Terkait operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. PWS yang terletak di blokG-5/6 Divisi Pangkor Desa Bakung Kecamatan Bayung Lencir. Kami melihat kepulan asap pekat dan membumbung tinggi ke udara , sehingga menyebabkan polusi udara dan dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar akibat kandungan berbahaya dalam kepulan asap yang terbawa angin”, ungkap nya.

Denres juga menyinggung Soal komitmen janji PT. PWS terhadap masyarakat dan negara soal prosentase Kebun inti dan Plasma, ” Dari Data dan Pembacaan peta kebun serta informasi masyarakat sekitar bahwasanya PT. PWS murni 100 persen kebun inti perusahaan”.

“Lah ini artinya tidak menyediakan kebun Plasma untuk masyarakat sesuai dengan aturan pemerintah dan Undang-undang perkebunan”, tegas Denres.

“Padahal faktanya kehidupan masyarakat pedesaan sekitar perkebunan PT. PWS mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan dan di bawah garis kebodohan.PT. PWS gagal menjadi mitra pemerintah untuk ikut mensejahterakan, mencerdaskan, menyediakan lapangan pekerjaan, serta ikut andil menggangkat harkat dan derajat masyarakat kawasan sekitar Izin usaha perkebunan yang ada”.

“Kami berharap kepada pemerintah agar memberikan atensi dan perhatian khusus terkait hal tersebut di atas”, pungkas Denres SP.

(Fndy)

Author: 

No Responses

Leave a Reply